Jangan Sembarangan Percaya, 5 Mitos Keperawanan Yang Sering Kamu Dengar Ini Menyesatkan, Lho!
KARTUREMI, Setelah operasi mengembalikan selaput dara atau hymenoplasty marak, kini kita mendengar lagi bahwa ada cara ajaib mengembalikan keperawanan. Atau setidaknya keperawanan palsu dengan pil yang bisa mengembang selama kurang lebih setengah jam setelah dimasukkan ke dalam vagina dan akan pecah mengeluarkan darah palsu ketika penetrasi. Kenapa sih perempuan-perempuan di Indonesia takut banget sama cap 'nggak perawan' sampai harus beli selaput dara palsu? Padahal berdarah pada malam pertama itu hanya mitos keperawanan yang sama sekali nggak valid. Seperti juga mitos-mitos keperawanan menyesatkan lainnya seperti di bawah ini. Yuk simak biar nggak salah kaprah!
1. Mitos 1: Selaput dara adalah membran yang akan 'sobek' ketika terjadi penetras
Faktanya, selaput dara atau hymen berbentuk seperti bunga mawar dengan lipatan di mana-mana dan bersifat elastis. Bentuknya pun berbeda-beda antara satu perempuan dengan perempuan lainnya. Membran ini lentur dan oleh karenanya, bisa kembali ke bentuk semula. Selaput dara juga nggak kayak balon yang bisa pecah karena sebelumnya menutup jalan ke bagian dalam vagina. Kalau selama ini selaput dara dianggap 'menutupi', berarti logikanya seorang perempuan nggak bisa mengalami menstruasi kecuali selaput daranya sudah terbuka dong? Yup, salah kaprah lainnya. Jadi sekali lagi, selaput dara adalah membran elastis yang berada di area vagina, tidak menutupi jalan masuk vagina.
2. Mitos 2: Kalau nggak berdarah, nggak perawan
Mitos keperawanan yang satu ini banyak dipercaya hingga kini. Padahal faktanya, memang ada sebagian hubungan seksual pertama kali yang mengakibatkan luka pada selaput dara sehingga organ intim perempuan mengeluarkan darah. Darah ini berasal dari luka di jaringan pada selaput dara dan bukan karena 'sobek'. Banyak perempuan yang ketika pertama kali melakukan hubungan seksual tidak mengeluarkan darah. Hal ini bergantung pada kecepatan penetrasi serta ukuran dan kelenturan selaput dara. Jadi nggak semua yang nggak berdarah berarti nggak perawan. Jika berdarah, bisa jadi penetrasi agak dipaksakan hingga membuat perempuan merasa tidak nyaman. Ada juga yang menyatakan bahwa hubungan seksual pertama pasti sakit. Sakit dan keluarnya darah sebenarnya bisa diminimalisir dengan foreplay sampai lubrikasi alami terjadi pada perempuan. Ketika tubuh rileks, seks tidak lagi menyeramkan.
3. Mitos 3: Seseorang dapat dinyatakan tidak perawan dengan 'pemeriksaan 2 jari'
Isu ini nggak hanya memancing keributan di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain seperti India, Irak, dan Mesir. Negara-negara yang masih senang mempersoalkan hal-hal pribadi sehingga merasa perlu mengadakan tes keperawanan untuk seleksi masuk institusi tertentu. Cara memeriksa keperawanannya adalah dengan dokter memasukkan dua jari ke vagina. Jika dua jari itu dapat masuk, perempuan yang diperiksa dinyatakan tidak perawan. Faktanya, ukuran lubang vagina setiap perempuan berbeda. Normalnya 2-3,5 cm. Ketika seorang perempuan merasa gugup, dinding vagina akan menebal dan penetrasi lebih sulit terjadi. Dengan ukuran normal saja, dua jari hampir bisa dipastikan dapat masuk. Tapi ini juga berkaitan dengan fakta nomor dua. Ketika seorang perempuan merasa gugup, organ intimnya jadi lebih 'waspada' untuk menerima penetrasi. Itu yang membuatnya terasa kencang dan rapat pada malam pertama, yaitu karena belum terbiasa dan nggak rileks.
Sumber :https://www.yukepo.com/


0 komentar: